Flash News
   
Ukuran Huruf
Bookmark and Share

Berita

Empat Alasan Mengapa Sanitasi Penting

Thursday, 23 October 2014 00:00

CENGKARENG - Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sanitasi adalah usaha untuk membina dan menciptakan suatu keadaan yang baik di bidang kesehatan, terutama kesehatan masyarakat. Sanitasi juga dapat berarti cara menyehatkan lingkungan hidup manusia terutama lingkungan fisik, yaitu tanah, air, dan udara. Pengertian ini benar tetapi belum memberikan gambaran yang konkrit tentang apa itu sanitasi. Sanitasi pada dasarnya merupakan kebutuhan dasar manusia yang dihubungkan dengan tiga komponen untuk dikelola yaitu persampahan, air limbah dan drainase. Sanitasi tidak hanya berimplikasi pada kesehatan masyarakat, tetapi memiliki manfaat yang luas.
Dalam Pelatihan Strategi Komunikasi dan Advokasi untuk Implementasi Program Percepatan Sanitasi Permukiman (PPSP) yang diselenggarakan di Aston Cengkareng pada 22-25 Oktober 2014, Kasubdit Penyehatan Air Minum dan Sanitasi Dasar - Kementerian Kesehatan, F. Eko Saputro, SKM., M.Kes., menyampaikan beberapa hal yang merupakan alasan pentingnya memperhatikan sektor sanitasi.
Pertama, masih ada 40,2% penduduk Indonesia yang belum mendapatkan akses sanitasi layak. Artinya, banyak penduduk yang belum terpenuhi kebutuhan dasarnya. Ada banyak alasan mengapa hal ini terjadi, tetapi Pemerintah sebagai duty bearer tetap punya tanggung jawab untuk mengakselerasi pemenuhan kebutuhan dasar warga.
Kedua, Indonesia mengalami kerugian ekonomi sebesar 56,7 trilyun per tahun akibat kondisi sanitasi yang buruk (Studi WSP 2006). Kerugian ekonomi ini terjadi karena tingginya angka kesakitan yang berpengaruh pada produktivitas kerja masyarakat, selain itu semakin lama pengabaian terhadap aspek sanitasi maka akan semakin besar biaya investasi yang dibutuhkan untuk perbaikannya.
Ketiga, setiap 1 USD yang diinvestasikan untuk perbaikan sanitasi memberikan imbal balik hasil paling sedikit sebesar 8 USD. Besaran ini diperoleh dari kajian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2005. Sanitasi buruk mengakibatkan kerugian per tahun yang cukup besar bagi Indonesia, sebaliknya bila sanitasi diurus dengan baik maka setiap investasi akan memberikan hasil balik yang besar.
Keempat, intervensi modifikasi lingkungan dapat menurunkan angka penyakit diare sampai 94% (Studi WHO, 2007). Diare masih menjadi salah satu penyakit pembunuh terbesar, khususnya bagi balita dan anak-anak. Umumnya penyakit diare berhubungan erat dengan kondisi sanitasi yang buruk di keluarga maupun lingkungan. Intervensi yang tepat bisa mencegah hal tersebut.
Menurut Eko Saputro, sudah bukan saatnya lagi Pemerintah Daerah berbondong-bondong membangun rumah sakit. Selain membutuhkan investasi yang besar, banyaknya rumah sakit menunjukkan bahwa pemerintah hanya responsif, tetapi tidak aktif dalam memastikan warganya tidak jatuh sakit dan kehilangan waktu produktifnya.
Di sisi lain, sanitasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah tetapi juga masyarakat, sebagaimana slogan sanitasi yang sempat dipopulerkan yaitu, "Sanitasi Urusan Kita Bersama". Untuk mendongkrak partisipasi masyarakat digunakan pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). STBM adalah pendekatan untuk mengubah perilaku hiegenis dan saniter melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara pemicuan. Saat ini 18.339 dari 20.000 desa yang ditargetkan telah melaksanakan STBM. Ke depannya, STBM akan terintegrasi dalam Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman untuk pencapaian Universal Akses Sanitasi 2019 [SL]
CENGKARENG - Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sanitasi adalah usaha untuk membina dan menciptakan suatu keadaan yang baik di bidang kesehatan, terutama kesehatan masyarakat. Sanitasi juga dapat berarti cara menyehatkan lingkungan hidup manusia terutama lingkungan fisik, yaitu tanah, air, dan udara. Pengertian ini benar tetapi belum memberikan gambaran yang konkrit tentang apa itu sanitasi. Sanitasi pada dasarnya merupakan kebutuhan dasar manusia yang dihubungkan dengan tiga komponen untuk dikelola yaitu persampahan, air limbah dan drainase. Sanitasi tidak hanya berimplikasi pada kesehatan masyarakat, tetapi memiliki manfaat yang luas.

Dalam Pelatihan Strategi Komunikasi dan Advokasi untuk Implementasi Program Percepatan Sanitasi Permukiman (PPSP) yang diselenggarakan di Aston Cengkareng pada 22-25 Oktober 2014, Kasubdit Penyehatan Air Minum dan Sanitasi Dasar - Kementerian Kesehatan, F. Eko Saputro, SKM., M.Kes., menyampaikan beberapa hal yang merupakan alasan pentingnya memperhatikan sektor sanitasi.

Pertama, masih ada 40,2% penduduk Indonesia yang belum mendapatkan akses sanitasi layak. Artinya, banyak penduduk yang belum terpenuhi kebutuhan dasarnya. Ada banyak alasan mengapa hal ini terjadi, tetapi Pemerintah sebagai duty bearer tetap punya tanggung jawab untuk mengakselerasi pemenuhan kebutuhan dasar warga.

Kedua, Indonesia mengalami kerugian ekonomi sebesar 56,7 trilyun per tahun akibat kondisi sanitasi yang buruk (Studi WSP 2006). Kerugian ekonomi ini terjadi karena tingginya angka kesakitan yang berpengaruh pada produktivitas kerja masyarakat, selain itu semakin lama pengabaian terhadap aspek sanitasi maka akan semakin besar biaya investasi yang dibutuhkan untuk perbaikannya.

Ketiga, setiap 1 USD yang diinvestasikan untuk perbaikan sanitasi memberikan imbal balik hasil paling sedikit sebesar 8 USD. Besaran ini diperoleh dari kajian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2005. Sanitasi buruk mengakibatkan kerugian per tahun yang cukup besar bagi Indonesia, sebaliknya bila sanitasi diurus dengan baik maka setiap investasi akan memberikan hasil balik yang besar.

Keempat, intervensi modifikasi lingkungan dapat menurunkan angka penyakit diare sampai 94% (Studi WHO, 2007). Diare masih menjadi salah satu penyakit pembunuh terbesar, khususnya bagi balita dan anak-anak. Umumnya penyakit diare berhubungan erat dengan kondisi sanitasi yang buruk di keluarga maupun lingkungan. Intervensi yang tepat bisa mencegah hal tersebut.

Menurut Eko Saputro, sudah bukan saatnya lagi Pemerintah Daerah berbondong-bondong membangun rumah sakit. Selain membutuhkan investasi yang besar, banyaknya rumah sakit menunjukkan bahwa pemerintah hanya responsif, tetapi tidak aktif dalam memastikan warganya tidak jatuh sakit dan kehilangan waktu produktifnya.

Di sisi lain, sanitasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah tetapi juga masyarakat, sebagaimana slogan sanitasi yang sempat dipopulerkan yaitu, "Sanitasi Urusan Kita Bersama". Untuk mendongkrak partisipasi masyarakat digunakan pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). STBM adalah pendekatan untuk mengubah perilaku hiegenis dan saniter melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara pemicuan. Saat ini 18.339 dari 20.000 desa yang ditargetkan telah melaksanakan STBM. Ke depannya, STBM akan terintegrasi dalam Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman untuk pencapaian Universal Akses Sanitasi 2019 [SL]
 

Page 1 of 337