Written by Jawa pos
Wednesday, 03 February 2010 10:11
Dulu, Sungai Negoro jorok. Jika pagi atau sore, ada saja warga yang "nongkrong" di pinggir sungai untuk buang hajat. Kini, pemandangan tak elok itu sudah tidak terlihat lagi. Terutama sejak sungai itu diberi plengsengan.
Sebagai gantinya, warga mulai membangun jamban. Misalnya, warga RT 14, RW 4. Sebanyak 39 KK di RT tersebut kini telah memiliki jamban sendiri di dalam rumahnya.
Anis Suaibah, bidan desa setempat, menyatakan, sejak Desa Pademonegoro dikukuhkan sebagai desa siaga nomor satu di Sidoarjo, dirinya termotivasi mengembangkan tugasnya. Tujuannya, meningkatkan kesehatan lingkungan desa secara menyeluruh.
Ada empat RT di dusun tersebut. Dari 39 KK, tujuh di antaranya memiliki jamban sejak dulu. Sedangkan 32 jamban baru dibangun pada November 2009.
Menurut Anis, membangun jamban memang mahal. Namun, itu bukan alasan untuk tidak memilikinya. Karena itu, dia berusaha mencari cara yang tidak terlalu membebani warga. "Akhirnya, kami bentuk arisan," papar Anis.
Ketua Tim Pengelola Jamban Machmud menambahkan, arisan tersebut diikuti seluruh KK, baik warga yang sudah memiliki jamban maupun yang belum. Termasuk kepala dusun dan beberapa bidan desa. "Namun, kami utamakan yang belum memiliki jamban," terangnya.
Arisan tersebut diundi setiap dua minggu sekali. Iuran arisan sebesar Rp 12.500 dan ditarik saat pengundian. Untuk mempercepat program sanitasi, setiap pengundian diambil enam nama. Setiap nama berhak mendapat uang Rp 600 ribu. "Tapi, uang tersebut dikelola tim untuk membuat jamban," tuturnya.
Walau seluruh warga telah memiliki jamban, masa pembayaran mereka tetap berjalan. Jika dihitung sesuai dengan jumlah peserta, arisan tersebut berakhir sekitar dua tahun mendatang. "Uang yang sudah digunakan warga itu hasil pinjaman dari tim dulu," papar Machmud.
Salah seorang warga, Fuadah, menceritakan pengalaman pertamanya memiliki jamban di rumah. Wanita 38 tahun itu menyatakan terbiasa buang air di Sungai Negoro. Karena pada sungai tersebut dibangun plengsengan, dia harus rela berjalan 1 kilometer untuk buang hajat di Sungai Plumbungan. "Ngempet sambil lari-lari," tutur ibu empat anak itu.
Awalnya, dia merasa kikuk saat mau buang air di dalam kamar mandi. "Biasanya sambil buang air bisa lihat orang jalan-jalan," ucapnya disusul tawa.
Warga lainnya, Nur Jaiyah, 40, juga menyatakan senang karena kini memiliki jamban di dalam rumahnya. Sebelumnya Fuadah mengalami kesulitan ketika perutnya mules pada malam hari. Jika akan buang hajat, meski jauh, dia harus pergi ke Sungai Plumbungan. Selain jauh, jika malam, jalanannya gelap. Untuk itu, dia meminta diantar suaminya. "Sekarang enak, nggak perlu jauh-jauh," tambahnya.