Flash News
   
Ukuran Huruf
Bookmark and Share

Sanitasi Buruk Negara ASEAN Hilangkan Rp90 Triliun

Pemerintah dipastikan akan menanggung beban ekonomi yang besar bila tidak memedulikan investasi bagi sanitasi dan kebersihan lingkungan. Beban ekonomi akibat sanitasi dan kebersihan yang buruk di lima negara Asia Tenggara mencapai US$9,2 miliar (lebih dari Rp90 triliun) per tahun.

Jika pemerintah menginvestasikan anggaran untuk sanitasi dan kebersihan lingkungan, maka akan mendapatkan tingkat imbal hasil ekonomi berkisar antara 30% hingga 200%. Pemerintah negara-negara berkembang kini memiliki bukti dan justifikasi untuk segera melakukan investasi di bidang sanitasi.

Hal tersebut mengemuka dalam pertemuan di 2nd East Asia Ministerial Conference on Sanitation and Hygiene (EASAN 2) di Manila, akhir Januari 2010. Pertemuan yang dihadiri 15 negara berlangsung sejak 27 hingga 30 Januari lalu itu sekaligus memutuskan Indonesia akan menjadi tuan rumah pada 3nd EASAN pada 2012.

Dari kajian pada 2008, menunjukkan bahwa kerugian ekonomi akibat sanitasi yang buruk berkisar antara 1,3% sampai 7,7% dari Produk Domestik Bruto di negara-negara yang dikaji. Di lima negara Asia Tenggara (Kamboja, Indonesia, Laos, Filipina, dan Vietnam), biaya ekonomi yang diakibatkan oleh sanitasi dan kebersihan lingkungan yang buruk mencapai US$9,2 miliar (lebih dari Rp90 triliun) per tahun. Negara-negara dengan akses sanitasi terendah (Kamboja, Laos) mengalami dampak terbesar secara relatif.

"Dari data yang dihasilkan laporan tahap pertama kita mengetahui bahwa sanitasi yang buruk menimbulkan konseksuensi ekonomi negatif yang signifikan di masyarakat. Pada tahap kedua menelaah bagaimana kita dapat menghindarkan biaya-biaya ekonomi tersebut dan intervensi sanitasi apa yang menghasilkan manfaat ekonomi dan finansial tertinggi dengan biaya serendah mungkin," papar Guy Hutton, ekonom WSP yang menyusun laporan tersebut.