Flash News
   
Ukuran Huruf
Bookmark and Share

Mengelola Sampah di Kota Modern, Sendai, Jepang

PDFPrintE-mail

sendaiSalah satu ciri kota modern adalah punya manajemen pengelolaan sampah yang baik. Kota Sendai di Jepang adalah salah satu di antara kota modern yang memiliki manajemen pengelolaan sampah yang sangat maju. Bayangkan saja, buku petunjuk untuk membuang sampah saja tebalnya 26 halaman!

Di kota ini sampah dikelompokkan menjadi dua, yaitu sampah rumah tangga dan sampah bisnis. Pengelolaan sampah rumah tangga sepenuhnya dilakukan oleh pemerintah kota. Sampah rumah tangga dikelompokkan lagi ke dalam beberapa golongan. Di antaranya sampah dapur, sampah plastik, golongan sampah botol dan kaleng, serta golongan sampah kertas.

Selain itu ada golongan sampah ukuran besar seperti meja, sofa, sepeda, dan sejenisnya. Setiap golongan sampah tersebut punya aturan sendiri untuk membuangnya.

Tidak setiap hari warga kota bisa membuang sampah karena sampah harus dikumpulkan dan dibuang sesuai dengan jadwal tertentu. Misalnya, golongan sampah dapur diangkut setiap Senin dan Jumat, maka warga hanya bisa mengeluarkan sampah itu pada hari tersebut. Tak hanya itu. Sampah tidak bisa dibuang begitu saja, tetapi harus dikumpulkan di dalam kantung yang bertanda khusus sesuai golongannya. Kantung untuk sampah dapur hanya boleh diisi sampah dapur. Bila dicampur aduk maka sampah tidak akan diangkut dan harus diambil kembali oleh pemiliknya. Kantung tersebut tidak gratis, melainkan harus dibeli dengan harga tertentu sesuai kapasitasnya. Misalnya, kantung sampah dapur berkapasitas 45 liter dijual seharga 40 yen atau sekitar Rp 40.000 per lembar. Yang paling menarik adalah untuk kategori sampah elektronika yang juga digolongkan ke dalam sampah khusus. Seorang harus membayar sekitar 6.000 yen atau Rp 600.000 untuk membuang sebuah kulkas bekas ukuran sedang.

Kolam renang

Kota Sendai mengolah sampahnya pada beberapa pusat daur ulang (recycle center) yang juga berfungsi sebagai tempat hiburan keluarga. Pusat daur ulang memiliki kolam renang air hangat dan tempat permainan anak-anak. Fasilitas ini juga dilengkapi dengan ruang pameran yang memberi pengetahuan tentang proses pengolahan sampah dan daur ulang. Warga biasanya mendatangi fasilitas ini untuk rekreasi akhir pekan.

Lalu dari manakah biaya pengolahan dan daur ulang itu? Ternyata, sebagian besar berasal dari hasil penjualan sampah yang didaur ulang, termasuk dari penjualan kantung sampah.

Namun demikian, hal utama yang membuat program pengolahan sampah ini berhasil baik adalah partisipasi aktif dari warga kota. Pemerintah Kota Sendai tidak menyediakan tong sampah di tempat umum. Setiap warga dengan sukarela membawa pulang semua sampah yang dihasilkannya ke rumah untuk dibuang sesuai dengan golongan dan jadwalnya. Kesadaran ini sangat dimiliki oleh setiap warga, sehingga pemerintah kota tidak harus menyediakan tenaga kebersihan khusus di tempat-tempat umum.

Kota Banda Aceh saat ini juga sudah memiliki sebuah fasilitas pengolahan sampah modern. Tapi, apakah Pemko Banda Aceh beserta warganya sudah siap untuk berpartisipasi dalam sebuah manajemen sampah yang modern? [] ZAHRUL FUADI, dosen pada Jurusan Teknik Mesin Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Sendai, Jepang