Flash News
   
Ukuran Huruf
Bookmark and Share

Mesin Pengubah Sampah Plastik Jadi Minyak

PDFPrintE-mail

plastik_jadi_minyak1Plastik menjadi masalah di dunia. Soalnya sampah ini sulit diuraikan oleh alam. Ada yang menyebut sampah plastik baru bisa terurai setelah 100 tahun. Makanya, berbagai upaya dilakukan untuk membatasi penggunaan sampah plastik ini. Juga ada upaya membuat plastik yang mudah terurai dan kini produk tersebut sudah mulai muncul.

Namun, plastik sudah keburu menjadi piranti yang dipakai manusia. Mau tidak mau, sampah-sampah plastik ini harus diatasi. Seorang Jepang Akinori Ito berhasil merancang sebuah mesin yang bisa mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar. Karena keberhasilannya itu, ia mendapat penghargaan.

Sebagaimana diketahui, kantong plastik, botol air kemasan, dan beberapa produk pengemas lainnya terbuat dari minyak. Dari situlah Itu mencoba mengembalikan plastic-plastik sampah itu menjadi materi aslinya yakni minyak melalui proses negative-karbon.

Prinsip kerja alat temuan Ito ini adalah karbon memanaskan plastik, memerangkap uap dalam sebuah sistem pemipaan, lalu kamar-kamar air yang berfungsi mendinginkan uap, mengembunkan mereka kembali menjadi minyak mentah. Minyak ini nantinya bisa diolah berikutnya menjadi bensin, solar, dan sebagainya.

Mesin temuan Ito ini menggunakan energi listrik sebagai pembakarnya. Piranti itu dapat mengubah satu kilogram sampah plastik menjadi satu liter minyak dengan energi sebesar satu kilowat per jamnya. Mesin ini dijual seharga US $ 10 ribu (Rp 100 juta).

Sebenarnya mesin temuan Ito ini bukan yang pertama kali bisa mengubah sampah plastik menjadi minyak. Sudah ada mesin sejenis, hanya saja kapasitasnya industri (skala besar). Misalnya, Envion Oil Generator, yang mampu memproses 10 ribu ton plastik setiap tahunnya. Setiap sampah plastik diubah menjadi tiga hingga lima barel minyak mentah yang dapat disuling lebih jauh menjadi bahan bakar komersial seperti bensin bahkan avtur. Sedangkan mesin Ito ini didesain untuk skala rumah tangga.

Belakangan di Indonesia, banyak orang menemukan peralatan yang mirip dengan temuan itu. Hanya saja, cara kerjanya sangat sederhana seperti pemanasannya menggunakan pembakaran biasa (kayu, dll) untuk membakar sampah plastik sehingga bisa menimbulkan pencemaran ke udara. Alat-alat itu menggunakan peralatan apa adanya dan tentu tidak menggunakan perhitungan secara keilmuan (scientific). Bandingkan dengan temuan Ito yang memang dipersiapkan secara matang.

Munculnya alat pengubah sampah plastik menjadi minyak mentah ini dapat mengurangi timbunan sampah plastik saat ini. Ini bisa menjadi potensi yang baik untuk menjaga lingkungan. Khusus di Indonesia, ini menjadi tantangan bagi para ilmuwan untuk berkreasi merekayasa alat serupa yang murah serta mudah digunakan oleh rakyat. [] MJ