Written by Mujiyanto Wednesday, 14 January 2009 00:00
Bicara sanitasi memang tidak mudah. Banyak orang yang belum peduli. Jangankan masyarakat, para birokrat pemerintah pun tak peduli. Walhasil, bertahun-tahun sanitasi tidak menjadi prioritas pembangunan. Tak mengherankan, kondisi sanitasi Indonesia jauh dibandingkan dengan negara-negara lain di ASEAN. Bagaimana ini bisa terjadi, Naning Adiwoso, Ketua Umum Asosiasi Toilet Indonesia (ATI) mencoba menjawabnya.
Bagaimana Anda melihat kondisi sanitasi kita saat ini?
Jujur saja. Sangat menyedihkan. Dalam konferensi WTO (World Toilet Organisation), kita berada pada peringkat di bawah Vietnam dalam masalah sanitasi ini. Kita nomor lima dari lima negara. Bayangin. Sampai saat ini di kita masih ada sepulub jenis penyakit. Di negara lain tinggal satu atau dua penyakit. Kita tanya pada orang Depkes, benar nggak sih apa yang dipresentasikan sama World Bank atau WHO. Ternyata benar. Dari situ kita bisa lihat bahwa orang kita itu maunya melakukan tapi tidak tahu bagaimana membereskan. Saya kira perlu pembelajaran masalah sanitasi. Soalnya jumlah penduduk makin banyak. Dengan global warming maka perkembangan penyakit akan semakin cepat.
Menurut Anda, faktor apa yang menyebabkan kondisi Indonesia sampai kayak begini?
Orang kita itu tidak bisa memelihara dan tidak mau membersihkan. Bayangin, mereka dikasih WC, begitu memelihara, membersihkan tidak mau. Tapi kalau mereka pergi ke sungai, kan tidak membersihkan, tidak ngapa-ngapain. Kalau mereka punya ruangan untuk sarana itu, tidak mau memelihara. Cuma pakai saja. Saya kira perlu awareness.
Bagaimana pandangan Anda terhadap perhatian pemerintah di sektor ini?
Kurang. Tapi sekarang mulai ada. Saya sudah mulai tahun 1999, kalau saya bicara toilet mereka tertawa. Ngapain sih kayak gitu aja kok diomongin. Jadi masalah ini dianggap tidak seksi sama sekali. Kebanyakan orang melihat sesuatu yang nyata. Sanitasi ini kan tidak begitu, malah letaknya di bawah tanah. Padahal mereka lupa, bahwa sanitasi yang buruk dampaknya bisa merusak air tanah dan mengakibatkan segala macam penyakit.
Idealnya kondisi sanitasi kita seperti apa?
Seperti negara maju yang lain. Misalnya Singapura. Dimana semuanya bisa terkontrol. Masalah kita sebenarnya karena kita kebanyakan menggunakan air. Jadi air bersih kita kan keambil. Kurang lebih 125 liter/hari/orang. Bayangin penduduk kita aja sudah 120 juta. Karena itu harus tahu bagaimana cara kita menghemat air dalam menggelontor, atau menggunakannya itu.
Bisa nggak pembangunan sanitasi ini dipercepat dalam kondisi kepeduliaan yang memprihatinkan sekarang?
Bisa kalau pemerintah benar-benar turun. Kalau pemerintah nggak punya dana, ajak dong private sector. Atau kalau perlu setengah nginjak deh kakinya untuk kepentingan masayakat. Kalau nggak gitu ya susah. Seperti negara yang lain misalnya Vietnam, pemerintahnya kan benar-benar turun. Thailand saja sampai ada yang namanya Klinde, dimana menteri-menterinya ikut membersihkan toilet dan memperhatikan sanitasi. Tokoh-tokoh agamanya juga dilibatkan. Bisa lewat NGO, lembaga pendidikan, developer dan arsitek. Mereka semua harus diajarin. Misalnya orang bikin project, kan tukang-tukang harus ke WC kan? Akhirnya Cuma gali-gali saja dan tidak dibangun WC yang proper sehingga merusak air tanah. Bikinlah yang benar. Mudah-mudahan kalau proyek sudah jadi, tempat itu bisa dipakai untuk sopir atau office boy. Semuanya harus direncanakan secara matang.
Anda katakan kepedulian pemerintah terhadap sanitasi masih kurang. Apakah sektor ini masih dianggap belum seksi?
Sekarang sudah mulai tahu. Tapi tidak tahu bagaimana harus mengerjakannya.
Untuk penduduk perkotaan yang padat, idealnya mereka punya jamban/toilet seperti apa?
Pemerintah harus turun tangan. Katakan bahwa setiap rumah tidak boleh punya septic tank sendiri-sendiri. Jadi harus punya komunal septic tank. Kedua, masyarakat mulai diajarkan dalam mendesain WC tidak menggunakan air terlalu banyak. Ada yang 3 liter atau 1,5 liter.. Untuk cuci tangan ada yang tinggal tombol keluar air hanya 4 detik. Jadi water saving. Cara menggunakan, cara memelihara, dan cara membersihkan ini perlu diajarkan.
Artinya perilaku masyarakat kita masih jauh dari harapan?
Ya. Belum sampai. Ini sangat tergantung awareness.
Bagaimana memunculkan awareness ini, apakah pemerintahnya dulu atau masyarakatnya dulu?
Dua-duanya. Pemerintah harus punya punishment. Kalau tidak punya punishment, orang akan seenaknya. Misalnya kalau pake helm nggak ada sanksinya, orang akan seenaknya. Begitu ada sanksinya, semua orang pake helm. Terus orang kita kan banyak menuntut kenapa tidak bersih, tanpa memikirkan bahwa WC umum harus dipelihara sama-sama.
Bagaimana anda melihat toilet umum di kota-kota di Indonesia?
Masih menyedihkan. Kalau di mall yang terkenal, yang bagus, mereka punya cleaning service yang bagus. No problem. Bandara aja yang seharusnya bagus, jelek dan kotor. Karena orang yang memelihara tidak terlatih. Apalagi sekarang orang dari level bawah pun bisa naik pesawat. Dan sering mereka tidak tahu bagaimana cara menggunakan toilet. Di beberapa tempat pemberhentian bus jarak jauh sudah bagus dengan adanya toilet bersih. Karena itu menjadi bagian dari menjual service mereka. Tapi coba ke rest area di tol Cikampek, waduh WC-nya kotor banget deh karena nggak ada yang membersihkan. Desainnya juga nggak bagus. Terlalu banyak sudut. Kenapa sih nggak menggunakan partisi yang menggantung, untuk sirkulasi udara.
Jadi kuncinya awareness?
Ya. Kalau kita bisa memberikan pendidikan sejak awal melalui sekolah, itu jauh lebih baik.