Sampah Baterai, Kecil tapi BerbahayaHampir setiap keluarga menggunakan baterai untuk keperluan peralatan elektronik, apakah itu kamera, remote, radio, walkman, lampu senter, laptop, jam tangan, dan lainnya. Kebanyakan baterai-baterai tersebut sekali pakai. Jarang orang menggunakan ... |
Menjaga Septic Tank Berfungsi BaikSeptic Tank atau sering disebut sebagai tangki septik adalah bangunan pengolah dan pengurai kotoran tinja manusia cara setempat (onsite) dengan menggunakan bantuan bakteri. Tangki ini dibuat kedap air sehingga air ... |

Bicara sanitasi memang tidak mudah. Banyak orang yang belum peduli. Jangankan masyarakat, para birokrat pemerintah pun tak peduli. Walhasil, bertahun-tahun sanitasi tidak menjadi prioritas pembangunan. Tak mengherankan, kondisi sanitasi Indonesia jauh dibandingkan dengan negara-negara lain di ASEAN. Bagaimana ini bisa terjadi, Naning Adiwoso, Ketua Umum Asosiasi Toilet Indonesia (ATI) mencoba menjawabnya.
Bagaimana Anda melihat kondisi sanitasi kita saat ini?
Jujur saja. Sangat menyedihkan. Dalam konferensi WTO (World Toilet Organisation), kita berada pada peringkat di bawah Vietnam dalam masalah sanitasi ini. Kita nomor lima dari lima negara. Bayangin. Sampai saat ini di kita masih ada sepulub jenis penyakit. Di negara lain tinggal satu atau dua penyakit. Kita tanya pada orang Depkes, benar nggak sih apa yang dipresentasikan sama World Bank atau WHO. Ternyata benar. Dari situ kita bisa lihat bahwa orang kita itu maunya melakukan tapi tidak tahu bagaimana membereskan. Saya kira perlu pembelajaran masalah sanitasi. Soalnya jumlah penduduk makin banyak. Dengan global warming maka perkembangan penyakit akan semakin cepat.
Menurut Anda, faktor apa yang menyebabkan kondisi Indonesia sampai kayak begini?
Orang kita itu tidak bisa memelihara dan tidak mau membersihkan. Bayangin, mereka dikasih WC, begitu memelihara, membersihkan tidak mau. Tapi kalau mereka pergi ke sungai, kan tidak membersihkan, tidak ngapa-ngapain. Kalau mereka punya ruangan untuk sarana itu, tidak mau memelihara. Cuma pakai saja. Saya kira perlu awareness.
Bagaimana pandangan Anda terhadap perhatian pemerintah di sektor ini?
Kurang. Tapi sekarang mulai ada. Saya sudah mulai tahun 1999, kalau saya bicara toilet mereka tertawa. Ngapain sih kayak gitu aja kok diomongin. Jadi masalah ini dianggap tidak seksi sama sekali. Kebanyakan orang melihat sesuatu yang nyata. Sanitasi ini kan tidak begitu, malah letaknya di bawah tanah. Padahal mereka lupa, bahwa sanitasi yang buruk dampaknya bisa merusak air tanah dan mengakibatkan segala macam penyakit.
Idealnya kondisi sanitasi kita seperti apa?
Seperti negara maju yang lain. Misalnya Singapura. Dimana semuanya bisa terkontrol. Masalah kita sebenarnya karena kita kebanyakan menggunakan air. Jadi air bersih kita kan keambil. Kurang lebih 125 liter/hari/orang. Bayangin penduduk kita aja sudah 120 juta. Karena itu harus tahu bagaimana cara kita menghemat air dalam menggelontor, atau menggunakannya itu.
Bisa nggak pembangunan sanitasi ini dipercepat dalam kondisi kepeduliaan yang memprihatinkan sekarang?
Bisa kalau pemerintah benar-benar turun. Kalau pemerintah nggak punya dana, ajak dong private sector. Atau kalau perlu setengah nginjak deh kakinya untuk kepentingan masayakat. Kalau nggak gitu ya susah. Seperti negara yang lain misalnya Vietnam, pemerintahnya kan benar-benar turun. Thailand saja sampai ada yang namanya Klinde, dimana menteri-menterinya ikut membersihkan toilet dan memperhatikan sanitasi. Tokoh-tokoh agamanya juga dilibatkan. Bisa lewat NGO, lembaga pendidikan, developer dan arsitek. Mereka semua harus diajarin. Misalnya orang bikin project, kan tukang-tukang harus ke WC kan? Akhirnya Cuma gali-gali saja dan tidak dibangun WC yang proper sehingga merusak air tanah. Bikinlah yang benar. Mudah-mudahan kalau proyek sudah jadi, tempat itu bisa dipakai untuk sopir atau office boy. Semuanya harus direncanakan secara matang.
Anda katakan kepedulian pemerintah terhadap sanitasi masih kurang. Apakah sektor ini masih dianggap belum seksi?
Sekarang sudah mulai tahu. Tapi tidak tahu bagaimana harus mengerjakannya.
Untuk penduduk perkotaan yang padat, idealnya mereka punya jamban/toilet seperti apa?
Pemerintah harus turun tangan. Katakan bahwa setiap rumah tidak boleh punya septic tank sendiri-sendiri. Jadi harus punya komunal septic tank. Kedua, masyarakat mulai diajarkan dalam mendesain WC tidak menggunakan air terlalu banyak. Ada yang 3 liter atau 1,5 liter.. Untuk cuci tangan ada yang tinggal tombol keluar air hanya 4 detik. Jadi water saving. Cara menggunakan, cara memelihara, dan cara membersihkan ini perlu diajarkan.
Artinya perilaku masyarakat kita masih jauh dari harapan?
Ya. Belum sampai. Ini sangat tergantung awareness.
Bagaimana memunculkan awareness ini, apakah pemerintahnya dulu atau masyarakatnya dulu?
Dua-duanya. Pemerintah harus punya punishment. Kalau tidak punya punishment, orang akan seenaknya. Misalnya kalau pake helm nggak ada sanksinya, orang akan seenaknya. Begitu ada sanksinya, semua orang pake helm. Terus orang kita kan banyak menuntut kenapa tidak bersih, tanpa memikirkan bahwa WC umum harus dipelihara sama-sama.
Bagaimana anda melihat toilet umum di kota-kota di Indonesia?
Masih menyedihkan. Kalau di mall yang terkenal, yang bagus, mereka punya cleaning service yang bagus. No problem. Bandara aja yang seharusnya bagus, jelek dan kotor. Karena orang yang memelihara tidak terlatih. Apalagi sekarang orang dari level bawah pun bisa naik pesawat. Dan sering mereka tidak tahu bagaimana cara menggunakan toilet. Di beberapa tempat pemberhentian bus jarak jauh sudah bagus dengan adanya toilet bersih. Karena itu menjadi bagian dari menjual service mereka. Tapi coba ke rest area di tol Cikampek, waduh WC-nya kotor banget deh karena nggak ada yang membersihkan. Desainnya juga nggak bagus. Terlalu banyak sudut. Kenapa sih nggak menggunakan partisi yang menggantung, untuk sirkulasi udara.
Jadi kuncinya awareness?
Ya. Kalau kita bisa memberikan pendidikan sejak awal melalui sekolah, itu jauh lebih baik.
Sampah Plastik, Produsen Bertanggung JawabProdusen yang menggunakan kemasan berbahan plastik yang tidak bisa didaur ulang bertanggung jawab untuk mengurangi ... |
"Green Label" Plastik Ramah LingkunganBerdasarkan data InSWA, 100 persen masyarakat di dunia menghasilkan sampah, tapi hanya kurang dari ... |
Plastik Oxium Terurai dalam Dua TahunBanyak orang beranggapan plastik adalah bahan non-organik yang berasal dari petroleum. Padahal, petroleum itu ... |
Wujudkan Denpasar Bebas Sampah Pemkot Lakukan Gerakan Kebersihan Pantai DenpasarGuna mewujudkan Denpasar bebas sampah, berbagai kegiatan dilaksanakan baik melibatkan masyarakat maupun pegawai di lingkungan ... |
Ciangir Jadi TPA RegionalTempat Pembuangan Sampah Terpadu di Ciangir Tangerang akan menjadi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional ... |
Lautan Sampah Ancam Kota BandungSelama 14 hari, terhitung mulai H-7 hingga H+7 Lebaran, sampah dari Kota Bandung kemungkinan ... |
|
More in: Kliping |
- + 1 |
Sistem Pengolahan Sampah di TPA Temesi, Gianyar: Buka Lapangan KerjaDari tahun ke tahun, kualitas lingkungan di Bali makin menurun. Ini tidak hanya terjadi di Bali, bahkan hampir di semua wilayah Indonesia. Sampah menjadi salah satu masalah lingkungan ... |
Mari Menciptakan Sanitasi SehatBau bacin sampah yang membusuk bercampur bau anyir limbah ikan tidak menyurutkan semangat sejumlah siswa Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Kota Tegal untuk membersihkan selokan di kawasan industri file dan ... |
Bank Sampah, Mengubah Pandangan tentang SampahMenyimpan sampah, terdengar paradoks. Sebab sampah adalah sesuatu yang biasanya kita buang. Tapi inilah yang dilakukan warga Badegan, Bantul, Yogyakarta. Mereka mengumpulkan, menyimpan lalu bahkan menabung sampahnya. Pukul 4 sore, warga ... |
Pilah Sampah Sanur, Contoh Swakelola Sampah Desa AdatDua desa adat di kawasan Sanur, Denpasar, Sanur Kauh dan Sanur Kaja, bagus menjadi contoh dalam mendorong penguatan kesadaran sistem swakelola sampah organik dan anorganik. Warga kedua desa ... |
Berkah Pendidikan Sanitasi di SekolahAnak-anak SD Percontohan 2 Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, bermain riang. Saat itu jam istirahat. Mereka tak segan duduk di lantai sekolah. Lantai porselin berwarna putih itu tampak mengkilat. Tak satu ... |
Daur Ulang Limbah Kemasan Plastik Menjaga Lingkungan Sembari BerbisnisMemang tak heran kalau naluri bisnis Yanti ‘tergerak’ melihat limbah-limbah kemasan plastik itu. Sehari-hari selain mengurus keluarga, ia juga berbisnis kecil-kecilan dengan mendaur ulang limbah kulit jagung menjadi kerajinan b... |
Payakumbuh, Kesadaran Kepada yang DasarPemerintah Kota Payakumbuh mengarahkan pembangunan untuk pembenahan kebutuhan dasar warga, yaitu pengelolaan sanitasi yang baik. Isu jamban, sampah, dan drainase bahkan dijadikan kampanye pilkada. Kota Payakumbuh termasuk sedikit kota di ... |
Lurung, Perjuangan Mengalirkan AirPipa sepanjang 300 meter itu mengubah kehidupan warga kampung Lurung, Kota Payakumbuh. Mereka tak lagi antre mandi di musala dan buang air besar di ‘tabek’ (kolam ikan). Tak ada kenangan pahit ... |
|
More in: Cerita dari Lapangan
|