Walikota Makassar Bicara Sanitasi

Walikota Makassar Bicara Sanitasi

TERLAHIR di lorong kecil, sempit dan kumuh, Moh. Ramdhan Pomanto tak pernah membayangkan dirinya menjadi walikota. “Alhamdulilah, Anak Lorong’na Makassar yang dulu hidup dengan sanitasi buruk bisa jadi walikota. Visi saya sederhana, mewujudkan Makassar sebagai kota dunia yang nyaman untuk semua”, akunya. Ia kemudian menjabarkan lagi visinya dalam tiga misi yaitu merekonstruksi hak rakyat, merestorasi tata ruang dan mereformasi tata pemerintahan.

Tata Lorong Bangun Kota Standar Dunia

Baginya, persoalan-persoalan di perkotaan dalam tugas walikota itu ada dua. Pertama, bagaimana memecahkan persoalan keseharian kota; dan kedua, bagaimana mempersiapkan kota itu ke depan. Kata kunci dalam visi kota Makassar adalah ‘nyaman’ dan ‘untuk semua’. Terdengar sederhana tetapi sebenarnya tidak, artinya sangat dalam ketika dioperasionalkan. Walikota dengan latarbelakang akademisi ini kemudian berupaya memetakan situasi kota yang dipimpinnya. “Kota Makassar berpenduduk 1,8 juta jiwa, sebagian menempati 1320 lorong, sekitar 9300KK di antaranya termasuk masyarakat berpendapatan rendah. Tidak ada jalan lain, untuk membangun kota secara cepat harus libatkan dan aktifkan semua peran publik”.

Mantan Dosen Arsitektur Universitas Hasanuddin ini kemudian mengundang sekitar 17000 stakeholders hanya untuk membicarakan kota Makassar. Tiga program utama pun lahir, Makassar Tidak Rantasa/Kotor, Makassar Sombere/Ramah, dan Makassar Smart City. Ia melihat bahwa persoalan Makassar ada di lorong-lorong. Dan persoalan lorong adalah kondisi air bersih dan sanitasi. Kondisi lingkungan di lorong-lorong itu rendah karena lorong itu makin hari makin sempit dan kondisi tanah di Makassar yang berpasir membuat air limbah yang tidak terkelola di lorong-lorong itu langsung terserap oleh sumur-sumur masyarakat. Tekad pun muncul, ‘tata lorong bangun kota standar dunia’.

Brain and Cells, dan Protokol Sentuh Hati

Meskipun berlatar belakang arsitek, tahun pertama karir politik Ramdhan Pomanto sebagai walikota tidak dijalaninya dengan membangun gedung-gedung, tetapi melakukan pelayanan publik di lorong-lorong. Baginya kota ibarat manusia. Ada brain dan ada cells. Brain adalah pemerintah, cells adalah rakyat. Rakyat yang paling bawah (tingkat kesejahteraannya) saat ini ada di lorong-lorong. Kepada merekalah, ia dan jajarannya mencurahkan perhatian penuh.

“Saya minta lurah-lurah membuat ‘citizen charter’. Satu hal diperjanjikan yaitu bahwa lurah harus turun ke ‘bawah’. Kami punya Protokol Sentuh Hati. Setiap selasa hingga kamis, lurah-lurah harus kunjungi 20 rumah dan mencari tahu apa masalah yang ada. Dari situ, masukkan program-program yang menjawab persoalan masyarakat”, imbuhnya.

Tentu ia menyadari bahwa yang dikerjakannya itu tidak mentereng secara politis karena jauh dari publisitas. Tentang hal ini, ia menjawab, “Saya hadir sebagai walikota bukan untuk dilihat, tetapi agar masyarakat merasakan manfaat”.

Harum karena Tinja

Salah satu aspirasi masyarakat yang terakomodasi dan memberi manfaat adalah Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (LLTT). Makassar menjadi kota pertama di Indonesia yang menerapkan layanan ini sekaligus menjadi kota percontohan. “Kali ini, Makassar harum namanya karena tinja”, seloroh sang Walikota yang mengaku bahwa ia sering sekali diundang ke berbagai forum untuk berbagi praktik baik ini.

“Persoalan inti sanitasi adalah bagaimana mengelola tinja dengan baik. Tinja yang tidak terkelola dengan baik akan mencemari air, dan air sebagai pengantar akan mencemari tanah, dan kemudian mencemari lingkungan. Kami punya 135 IPAL Komunal di gang-gang. Kenapa gang dan bukan kluster tertentu? Karena gang adalah lokasi cells. Tidak ada gunanya kota megah dengan gedung tinggi, bila sel-selnya rusak!”, katanya. Kota Makassar memiliki fasilitas pengolahan sanitasi, khususnya untuk lumpur tinja, yang sangat baik. Juga dari segi bisnis.

“Setelah pengelolaan lumpur tinja, target kami berikutnya adalah konservasi air sebagai bagian dari tanggung jawab masyarakat”. Perubahan-perubahan kecil di kota Makassar diyakini sebagai bagian dari revolusi mental. Masyarakat berani bayar Rp21.000 per bulan karena sadar bahwa pengelolaan lumpur tinja adalah bagian penting dari hunian yang baik. Penyiapan komunitas melalui pendekatan Sentuh Hati dan respon terhadap permasalahan yang teridentifikasi telah menggugah partisipasi masyarakat sekaligus meningkatkan indeks kebahagiaan masyarakat di Makassar.

“Lorong-lorong kami berubah dengan sangat baik. 70% lorong kami sekarang sehat, bersih, dan hijau. Partisipasi publik tinggi. Pelayanan sampah, lumpur tinja, dan air bersih, semua terintegrasi dengan baik. Dan, ini seharusnya menjadi kebanggaan tiap kota!”, paparnya bangga. [SL]

 

[Ditulis kembali dari paparan Walikota Makassar saat KSAN 2015]