[KSAN 2015] Tradisi Baik ala Sofyan Djalil untuk Mencipta Masa Depan Sanitasi dan Air Minum

[KSAN 2015] Tradisi Baik ala Sofyan Djalil untuk Mencipta Masa Depan Sanitasi dan Air Minum

JAKARTA – Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) 2015, hari ini resmi dibuka oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Sofyan Djalil. Dalam pidato pembukaan, Sofyan Djalil juga menegaskan pentingnya pembangunan sanitasi aman dan air minum layak dalam mendukung pembangunan di berbagai sektor lainnya.

“Sanitasi dan air minum merupakan hak dasar yang harus dipenuhi oleh pemerintah agar masyarakat bisa menikmati hidup yang lebih baik. Karena kami yakin, perbaikan kesehatan mampu meningkatkan kesejahteraan dan pendidikan dan masyarakat,” ujar Sofyan.

Dalam acara yang berlangsung di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Jakarta, Sofyan Djalil mencoba merespon suara hati generasi muda dengan memaparkan beberapa tradisi baik yang ia kenali dari kehidupannya. Dengan santai ia berbagi dan turut menginspirasi dengan kisah-kisah sederhana tapi sungguh terjadi.

Jalan Bebas Sampah ala Kyai Nur Ali
Tradisi baik ini dilakukan oleh seorang Kyai di Bekasi. Sang Kyai setiap pagi berolahraga sambil membawa sebuah tongkat yang ujungnya runcing. Dengan tongkat itulah, sang Kyai membersihkan sampah-sampah yang bertebaran di jalan yang ia lalui. Alhasil, sepanjang hidupnya, jalan yang ia lalui selalu bebas sampah. Tentu tak dapat dibayangkan jika ini dibiasakan dan dilakukan semua orang sebagai penanda kehadirannya di negeri ini.

Menciptakan Nilai Tambah
Ini adalah kisah pada masa Sofyan Djalil masih kuliah di Amerika. Ia punya sahabat yang akan pindah dan meninggalkan tempat tinggalnya untuk disewa orang lain. Sebelum pergi, sang sahabat memastikan bahwa rumah itu bersih, sudah diperbaiki, dicat lagi dengan rapi, dicuci kain jendelanya, dan sebagainya. Padahal, bisa saja ia membiarkan rumah itu apa adanya atau dalam keadaan rusak. Toh, ia sudah tidak akan tinggal di situ lagi. Sofyan Djalil penasaran dan menanyakan alasan sahabatnya. Jawabnya, ‘Saya punya prinsip, dimana pun saya berada, saya harus ciptakan nilai tambah’. Bagi Sofyan Djalil, ini merupakan sebuah standar moral tinggi yang seharusnya dimiliki orang Indonesia. Sebagai seorang Muslim, ia merasa tertegur. Ia meyakini bahwa kebersihan sebagian dari iman namun belajar tentang memberi nilai tambah dalam hidup, termasuk soal-soal kebersihan, justru dari pengalamannya di Amerika ini.

Tradisi Baik untuk Sekolah
Kebiasaan buruk sebagian orang yang menggunakan mobil mewah tapi membuang sampah lewat jendela membuat Sofyan Djalil berpikir keras. Hal ini merupakan salah satu protes yang disampaikan dua siswa di awal kegiatan KSAN 2015. Persoalannya menjadi pelik ketika yang dibuang adalah sampah anorganik. Begitu pun terkait dengan keluhan tentang toilet sekolah yang buruk. Hal-hal ini harus diubah. Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siswa. “Mari kita bicara dengan Diknas, agar anak sekolah punya tradisi baik”, ujarnya.

Sofyan Djalil berharap ada makin banyak tradisi baik yang dilakukan dan ada banyak pemberi inspirasi yang muncul di tengah masyarakat. Ini adalah kekuatan yang harus dijaga dan ditingkatkan. “Tradisi atau kebaikan menjadi inspirator sanitasi dan lingkungan harus dibina kembali. Mereka yang punya inovasi bagus mengatasi masalah di masyarakat. Ini bentuk partisipasi masyarakat dan harus di-encourage, bahkan pemerintah harus mendukung”, lanjutnya.

Dengan tema, ‘Mencipta Masa Depan Air Minum dan Sanitasi’, KSAN 2015 juga menghadirkan 17 inspirator untuk berbagi pengalaman dalam melakukan pembangunan sanitasi dan air minum di tanah air. “Mereka adalah para pahlawan sanitasi dan air minum dengan cara mereka masing-masing. Mereka secara tegas telah mencanangkan dirinya sebagai bagian dari solusi,” ungkap Sofyan Djalil bangga. Ia yakin banyak tradisi dan inspirasi baik ada di negeri ini untuk mendorong tercapainya Universal Akses 2020 [SL]