Belajar dari Kota Prabumulih

KOMUNIKASI MULTILEVEL


Prabumulih adalah sebuah kota kecil di Sumatra Selatan yang bergabung dalam program PPSP pada tahun 2010. Beberapa persoalan sanitasi yang diidentifikasi saat itu adalah maraknya perilaku buang sampah sembarangan, penanganan air limbah dan limbah padat (persampahan) yang buruk sehingga mencemari sistem drainase yang ada, serta munculnya berbagai penyakit yang dipicu oleh faktor sanitasi buruk seperti diare, ISPA, dll.

Dalam perencanaan pembangunan sanitasi, Kota Prabumulih menetapkan peningkatan kesadaran pemerintah dan masyarakat mengenai sanitasi dasar untuk meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan masyarakat sebagai tujuan pembangunan sanitasi. Tujuan ini menyasar tiga subsektor sanitasi yaitu penanganan sampah, air limbah, dan drainase perkotaan.

Komunikasi multilevel dan variatif

Menyasar peningkatan kesadaran tentang pembangunan sanitasi, Kota Prabumulih menggunakan berbagai cara untuk memastikan mereka yang ada di jajaran pemerintahan maupun masyarakat mengerti tentang sanitasi. Di antaranya adalah melalui radio, koran, dan buletin pemerintah kota.
Selain itu, juga dilakukan serangkaian kampanye sanitasi di sekolah dengan topik seperti cuci tangan pakai sabun (CTPS), stop buang air besar sembarangan (stop BABS), pengelolaan sampah, dan sebagainya. Materi sanitasi juga dimasukkan ke kurikulum sekolah agar sedari dini kesadaran tentang pentingnya sanitasi sudah terbangun.

Kegiatan-kegiatan yang dihadiri walikota terkait dengan sanitasi biasanya diliput sebagai bagian dari advokasi pada pimpinan daerah. Sedangkan untuk legislatif, kesempatan dengar pendapat pada saat rapat Dewan, proses musrenbang, dan penganggaran.

Dokumen sanitasi sebagai acuan

Bagi Pokja Sanitasi kota Prabumulih, Buku Putih Sanitasi (BPS) merupakan dokumen profil sanitasi yang lebih lengkap dibanding dokumen lainnya sehingga bisa dijadikan acuan untuk pengembangan perencanaan strategis. Dokumen ini memang disiapkan setelah melalui sejumlah studi. Bersama dengan dokumen Strategi Sanitasi Kota (SSK) dan Memorandum Program (MPS), Buku Putih menjadi dokumen perencanaan sanitasi yang integral sehingga berbagai kerja-kerja sanitasi menjadi sinergis dan memiliki pentahapan yang jelas. Pentahapan tersebut memudahkan kota Prabumulih untuk mengidentifikasi target sesuai kemampuan dan kebutuhannya.

Kota Prabumulih memiliki rencana induk untuk tiap sektor sanitasi. Tak heran, dalam beberapa tahun terakhir, realisasi usulan kegiatan pembangunan sanitasi di kota Prabumulih menunjukkan hasil yang menggembirakan, yaitu 84,61% di tahun 2012 dan 89,4% di tahun 2013. Komitmen pemerintah kota, komitmen Pokja, dukungan legislatif dibutuhkan, termasuk dalam mengawal agar usulan yang ada bisa masuk dalam sistem penganggaran rutin.

Dinamika Pokja

Pokja Sanitasi di kota Prabumulih memainkan peran sebagai katalisator, sedangkan untuk hal-hal teknis dilaksanakan oleh SKPD teknis. Keanggotaan di Pokja cukup dinamis, rotasi dan mutasi adalah hal yang dianggap lumrah, tetapi untuk memastikan proses ahli pengetahuan berjalan baik maka ada proses serah terima. Bahkan rotasi anggota Pokja ke tempat lain dianggap sebagai peluang untuk mendiseminasi pengetahuan tentang pembangunan sanitasi. Keaktifan menjadi anggota Pokja juga merupakan peluang untuk mendapatkan promosi ataupun kenaikan jabatan. Jadi, selalu ada hal yang positif yang bisa dilihat.

Semangat Pokja Sanitasi didorong oleh kesadaran bahwa sanitasi merupakan kebutuhan dasar manusia, oleh soliditas yang terbentuk di antara sesama anggota, dan karena adanya dukungan anggaran operasional. Walaupun dengan adanya tugas-tugas di Pokja dan tugas sesuai tupoksi di SKPD-nya, menuntut tiap anggota Pokja untuk bijak mengelola waktu sekaligus berupaya mengembangkan kapasitas dirinya.


 

Pembelajaran

  • Pembangunan sanitasi perlu dikomunikasikan di berbagai tingkatan, dengan berbagai metode, dan diupayakan diperkenalkan sedini mungkin.
  • Pentahapan dalam pembangunan sanitasi dimaksudkan agar target-target yang dibuat sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan, serta berpotensi terealisasi.
  • Dinamika keanggotaan Pokja akan tetap berlangsung positif bila proses alih pengetahuan terjadi, ada penghargaan terhadap kinerja yang baik, dan proses rotasi/mutasi dilihat sebagai kesempatan mendiseminasi pengetahuan tentang pentingnya pembangunan sanitasi.